Ragam Informasi

Beranda | Ragam | Wisata | Galleri Photo | Pengaduan | Database SKPD | Buku Tamu | Kontak Kami

Survey dan Desain Penanggulangan Banjir Kota Kotabaru (2003)

Setiap tahun, Kotabaru selalu menghadapi persoalan banjir di musim hujan serta kekurangan air dan kekeringan di musim kemarau. Karenanya disusun Survey dan Desain Penanggulangan Banjir Kota Kotabaru agar dapat dijadikan pedoman untuk menanggulangi / mengendalikan banjir di masa-masa mendatang yang didasarkan pada penelaahan dan penelitian yang menyeluruh dan terpadu.

Tujuan pekerjaan Survey dan Desain Penanggulangan Banjir kota Kotabaru adalah mewujudkan sistem drainase kota Kotabaruyang dapat memberikan alternatif penyelesaian masalah banjir kota Kotabaru, merekomendasikan alternatif terpilih untuk penyelesaian masalah abnjir kota Kotabaru dan memberikan gambaran tentang manfaat alternatif penyelesaian masalah banjir kota Kotabaru.

Fungsi Pekerjaan Survey dan Desain Penanggulangan Banjir kota Kotabaru adalah merupakan bagian dari pengelolaan sumber daya air yang lebih spesifik untuk mengontrol hujan dan air, umumnya melalui dam-dam pengendali banjir atau peningkatan sistem pembawa (sungai, drainase) dan pencegahan hal-hal yang berpotensi merusak dengan cara mengelola tata guna tanah dan daerah banjir. Sedangkan kegunaan pekerjaan Survey dan Desain Penanggulangan Banjir kota Kotabaru adalah memberikan gambaran tentang banjir dengan seperangkat problematiknya, menganalisis dan mencari solusi masalah banjir dan sekaligus mencoba untuk mendapatkan cara-cara yang tepat untuk ketersediaan air di musim kemarau dalam kerangka konsep pola pikir pengelolaan sumber daya air di era otonomi daerah yang terintegrasi, terpadu, dan menyeluruh.

Banjir yang terjadi dengan total luas 44,12 Ha di lokasi subsistem Baharu dan Peramuan saat ini disebabkan ketidakmampuan kedua sungai tersebut untuk menampung debit banjir yang terjadi akibat perubahan tata guna lahan di hulu, penyempitan badan sungai oleh rumah penduduk, dan pengaruh pasang air laut. Untuk lokasi sungai Baharu bisa diatasi dengan membangun cek dam, sodetan, dan sistem polder. Sementara untuk sungai peramuan bisa dilakukan normalisasi sungai tersebut termasuk merelokasi sungai ke tepi Jl. Veteran.

Banyaknya saluran drainase kota yang bermuara ke rawa tepi pantai saat ini menimbulkan genangan di daerah-daerah yang sudah terbangun yang sebagian besar justru terletak di bagian hilir sistem drainase kota. Kondisi ini memerlukan penataan sistem jaringan drainase untuk mengantisipasi pengembangan kota. Penataan saluran tersebut akan disertai dengan penataan jaringan jalan yang akan berfungsi sebagai jalan inspeksi saluran tersebut.

Sebagai daerah yang sedang pesat pembangunannya maka perubahan fungsi lahan secara cepat bisa terjadi, demikian halnya bisa terjadi pada daerah resapan air yang ada saat ini. Survey dan Desain Penanggulangan Banjir Kotabaru ini juga menganalisis dan merokemendasi untuk penataan daerah peresapan air (retarding basin) berupa pembangunan kolam-kolam penampung / pengendalian banjir.

Slope saluran yang besar terutama pada daerah-daerah dengan kemiringan lahan di atas 5% menyebabkan erosi pada saluran-saluran tanah yang sebagian besar merupakan sistem primer kota. Sebaliknya jika saluran sudah dikonstruksi dengan pasangan batu / beton, kecepatan aliran yang besar menyebabkan limpahan air pada pertemuan saluran dan gorong-gorong yang ada.

Alignment saluran buruk, banyak saluran dengan konstruksi pasangan yang dibuat dengan kedalaman yang tetap tanpa melihat arah kemiringan / arah alirannya. Di daerah yang datar kemiringan saluran yang kurang dan besarnya sedimentasi lumpur dan penumpukan sampah menyebabkan saluran-saluran tersebut tidak berfungsi dengan baik (air menggenang).
Perhatian Pemda pada sistem drainase primer kurang (mungkin karena keterbatasan dana). Lebih banyak saluran yang dibangun di sisi-sisi jalan yang sebetulnya lebih banyak berfungsi sebagai sistem drainase tersier atau sekunder, atau demi wajah kota.
Dengan melihat fakta-fakta di lapangan dapat disimpulkan bahwa pemeliharaan dan kontrol terhadap saluran sangat kurang, apalagi untuk saluran-saluran alam yang tidak terletak di pinggir jalan.

Dari segi sosial budaya, masih terbentur dengan kondisi kemasyarakatan. Pemilikan tanah yang sebagian besar (> 60%) masih merupakan tanah adat dan tanah marga mungkin selama ini cukup menyulitkan pemerintah untuk menangani saluran alam yang ada yang biasanya tidak terletak di pinggir jalan. Mungkin ada anggapan penduduk bahwa saluran atau sungai kecil yang melalui tanahnya adalah juga haknya.

Penduduk juga kurang memiliki kesadaran untuk tidak mendirikan bangunan di atas saluran yang melalui tanahnya. Mereka juga kurang sadar atau memang tidak tahu tentang kebersihan dan sanitasi lingkungan, maka banyak diantara penduduk yang juga memiliki kebiasaan membuang sampah, tinja manusia, dan kotoran ternaknya langsung ke dalam saluran.

Memandang aspek hukum, tidak ada sanksi / hukuman bagi penduduk yang membuang sampah dan tinja ke dalam saluran, atau mendirikan kandang ternaknya di atas saluran, mungkin akibat dari kurangnya penyuluhan dari pemerintah mengenai kebersihan dan sanitasi lingkungan.

Kemungkinan tidak ada kontrol dan sanksi di dalam pemberian surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) sehingga banyak bangunan didirikan dengan mempersempit badan saluran, atau dibangun di atas saluran dengan memasang gorong-gorong yang terlalu kecil.

 

Sumber: Laporan Akhir Survey dan Desain Penanggulangan Banjir Kota Kotabaru, Proyek Penanggulangan Banjir Kota Kotabaru Tahun Anggaran 2003.

Total hits : 2817

Berita Pilihan

  • Pulau Samber Gelap
    pulau Samber Gelap (tampak bangunan Mercu Suar) Lokasi pulau dari ibukota Kabupaten Kotabaru hanya menempuh waktu 2 (dua) jam perjalanan menggunakan s...
  • Rencana Taman Kota (RTH Suryagandamana)
    Potret lokasi RTH Suryagandamana dari angkasa Mesjid Agung - Jalan Suryagandamana - Gunung Sebatung Rencana Pembangunan RTH Ruang Terbuka Hijau Jl. Su...
  • Pertemuan Triwulanan Forum CD-CSR Kabupaten Kotabaru
    Kamis (7/10) diselenggarakan Pertemuan Triwulanan CD-CSR Kabupaten Kotabaru 2011-2015 bertempat di Aula Hotel Grand Surya yang dihadiri oleh perusahaa...